The Mirroring of Life

Archive for April, 2012|Monthly archive page

Buku Merah

In Uncategorized on 27/04/2012 at 9:52 am

Buku merah itu menunggu
Sudah lama ia menunggu torehan tinta dari mu
Tidakkah kau sadar betapa ia sangat membutuhkan mu?
Tidakkah kau sadar setiap sentuh mu membuatnya menjadi lebih hidup?
Ia hidup, hanya tidak lebih hidup seperti layaknya buku – buku merah lainnya

Buku merah itu termangu
Andai ia bisa berteriak, hanyalah nama mu yang akan ia teriakan
Andai ia bisa menangis, hanyalah karena ia sangat merindukan mu

Buku merah itu membutuhkan mu
Sama seperti aku membutuhkan mu

Passion or Obsession

In Uncategorized on 10/04/2012 at 6:20 am

“What’s your passion?”, gue sering banget nanya kaya gitu ke diri gue sendiri. Emmm jujur aja gue bingung waktu ditanya hal itu, bahkan sama diri gue sendiri. Akhirnya gue nanya lagi sama diri gue, “What’s your obsession?”.

Damn! Just another pieces of puzzle to be completed, and yet the first one still hanging there need to figure out 😀 (nyesel gue banyak nanya sama diri sendiri)

Iya gue tau, ini passion dan obsesi diri gue, masa sih harus bingung? Well sadly, that’s what I’ve been trough 😦

Hal kaya gini pernah juga kejadian waktu gue ada job interview. Biasalah, kebanyakan dan keseringan interviewer itu pasti nanya dua hal diatas tadi, Si Passion dan Si Obsession. Lagi – lagi dong, gue ga tau apa jawabannya. Seinget gue, waktu itu gue jawab, “Passion dan obsesi saya untuk kerja untuk mengisi waktu luang Saya, since I already have my part time job and my own business”. PLOOOOK! Hahahaha rasanya pengen gue nampar diri sendiri waktu itu, tapi yang ada gue malah sok cool dan innocent. Kampret bangetlah gue pokoknya waktu itu.

Ya udah ketebaklah ya gue keterima atau ga di perusahaan itu. Ya ga laaah. Siapa yang mau hire orang yang ga punya passion dan obsession, bahkan buat dirinya sendiri. Eh tapi ternyata, beberapa minggu kemudian si interviewer telepon gue. Sebenernya sih “kayanya” gue keterima, cuma karena gue dalam waktu dekat harus ijin kira – kira 2 minggu untuk ibadah Umroh, dan kayanya perusahaan ga bisa kasih policy untuk kasih ijin selama itu. Terlepas dari gue keterima atau ga nya, tapi dari kejadian itu gue kaya ketabok sama diri gue sendiri, bahwa gue harus punya obsession or at least passion for my life.

Since that day, I’m trying to sneak around to somewhere, something, somebody, and anything that able to bring out my passion and obsession. Baca buku (buku apa aja yang beli sendiri maupun gratisan :D), ngobrol sama murid expat gue dan temen – temen gue, follow account Twitter motivator (sebenernya yang ini bukan gue banget, tapi demi sebuah pencarian, catet ya pencarian bukan pencitraan hehehe), dan sampai Ivone cerita tentang dua tawaran dikantornya, jadi Relationship Manager (RM) di suatu departemen, sebut saja departemen A atau jadi Assistant Relationship Manager (ARM) di departemen lainnya, sebut saja departemen B.

Selama ini dia sering cerita kalau dia butuh sesuatu yang lebih dikerjaannya, need more challenging task, and of course more income. Tapi waktu tawaran itu dateng, instead of took the first offering, she took the second one, which is at departemen B. Untuk beberapa orang pasti akan arguing the decision she took. Tapi pasti dia punya alesan sendiri untuk itu. Waktu itu dia cerita ke gue kenapa dia ambil tawaran ARM, dan alesannya (menurut gue) bagus banget :

1. Gue akan punya banyak ilmu ketika gue di departemen gue yang baru dan ketika gue (suatu hari nanti) keluar dari perusahaan ini, “nilai gue bisa lebih mahal”, walaupun sekarang gue harus mulai dari bawah.

2. Gue ikutin kata hati gue.

KATA HATI. Following your heart. Simple but true. Maybe for some people out there, just following your heart is not enough, you need to know first what’s your heart (baca: diri sendiri) needed. Iya siiiih bener juga, paling ga harus tau juga apa yang dimau sama diri kita sebenernya. Tapiiii, dengan lo ikutin kata hati lo, lo akan tau (dikemudian hari) bahwa memang ini yang lo mau dan butuhkan.

Pekerjaan gue sekarang ini memang bukan seperti pekerjaan gue yang dulu. Dulu gue bisa menikmati hasil kerja gue (baca: gaji) lebih dari cukup, tapi yang sekarang CUKUP. Awalnya agak sulit sih nyesuainnya, tapi pas gue struggling sama diri sendiri, sama kebiasaan – kebiasaan yang lumayan menguras dompet dan ga penting juga kalau diinget – inget, akhirnya gue mulai tahu bahwa memang Tuhan tidak memberikan apa yang kita inginkan, melainkan Dia memberikan apa yang kita butuhkan.
Dari kecil sampe kira – kira umur 25an, gue selalu tidak pernah merasa cukup akan segala hal. Semua harus ada dan harus sesuai sama keinginan gue. Such an obsessed ya *fiuh*

Semuanya berubah sampai gue merasakan kehilangan. Kehilangan orang yang gue cintai, kehilangan pekerjaan yang ternyata bukan passion gue. Dari fase – fase itu gue mulai tahu bahwa memang semua ga bisa seperti apa yang kita mau, cuma kitanya aja yang ga ngeh, kalau sudah kejadian baru deh -__-*

Habis gelap terbitlah terang *jingkrak2*
Pekerjaan gue memang tidak lagi tinggi akan pressure dan pasti juga tidak tinggi pemasukan hehehehe, tapi ternyata gue sangat amat menikmati. I’m enjoying as an Indonesian teacher for foreigner and as a Photographer at Dovey, and I’m surrounding by people that I love so much. I’m so much full of passion doing all this. Maybe not as a precious as other people had, but this is what I need, not what I want.
I’m no longer an obsessed, but I’m full of passion for my life.

What’s yours?

%d bloggers like this: